(AIR BESAR ) WARTALANDAK NET, Sebanyak 17 kk warga masyarakat Desa Serimbu melakuksn pertemuan terkait dengan telah kurang lebih 3 bulan PT KMM Divisi 1 Berui tidak panen.
Pertemuan tersebut dilaksanakan di rumah bendahara pengurus koperasi di Dusun Saham deysa Serimbu, Jum'at 14/01.
Hadir dalam pertemuan tersebu ketua koperasi Binua Ae' Ayak,yang diwakili bendahara koperasi Sulaiman,permakilan dari pihak perusahaan Mursidi,dan sejumlah petani pemilik lahan .
Dalam pertemuan tersebut membahas sudah hampir 3 bulan petani tidak mendapatkan hasil bagi dari hasil panen buah sawit,padahal harga buah mencapai Rp.3720/kg.
Ternyata buah yang sudah dipanen tidak di jual karena tidak ada kendaraan untuk mengangkut/melanser, bahkan ada buah yang dimusnahkan dengan cara dibakar di lokasi kebun.sedsngkan untuk angkutan luar dari pihak kebun upahnya terlalu murah,hanya Rp.100,/kg.sehingga tidak ada yang mengangkutnya.
Menurut Sulaiman selaku bendahara koperasi binua ae' Ayak, mengatakan bahwa luas lahan yang dimiliki oleh masyarakat divisi 1 Berui 195 Ha,dengan jumlah anggota 22 orang petani pemilik lahan untuk masa tanam tahun 2014-2016. Dengan jumlah hasil 200 ton per bulan,sementara pada bulan Januari ini Hanua 40 ton lebih yang terjual,ini artinya ada penyusutan bagi hasil terhadap masyarakat pemilik masyarakat.
"Luas lahan yang dimiliki oleh masyarakat divisi 1 Berui 195 Ha,dengan jumlah anggota 22 orang petani pemilik lahan untuk masa tanam tahun 2014-2016. Dengan jumlah hasil 200 ton per bulan,sementara pada bulan Januari ini Hanua 40 ton lebih yang terjual,ini artinya ada penyusutan bagi hasil terhadap masyarakat pemilik lahan,"ujarnya.
Sementara itu Suhaidi (55) salah satu petani pemilik lahan mengatakan sudah kurang lebih 3 bulan tidak mendapatkan bagi hasil,ini artinya sangat -sangat merugikan kami sebagai petani.
"Sudah kurang lebih 3 bulan tidak mendapatkan bagi hasil,ini artinya sangat -sangat merugikan kami sebagai petani,' jelas Suhaidi.
Sadikin( 36) mengatakan bahwa perusahaan tidak memiliki kendaraan untuk melanser buah yang sudah dipanen,ada satu kendaraan seharusnya standby di camp perusahaan, tetapi justru berada di rumah pribadi,sedangkan biaya panser yang diberikan ke koperasi hanya Rp.100 saja, ini dirasakan sangat murah. Untuk menggunakan kendaraan bukan milik perusahaan dibayar dengan harga Rp.100/ kg,jasa ini sangat murah
"Perusahaan tidak memiliki kendaraan untuk melanser buah yang sudah dipanen,ada satu kendaraan seharusnya standby di camp perusahaan, tetapi justru berada di rumah pribadi,"jelasnya.
Sedangkan Mursidi (58)
Yang mengaku bekerja di PT.KMM tersebut menyarankan agar ada komunikasi dengan pihak manajemen agar masalah ini dapat di atasi, dengan cara melakukan musyawarah dan harus melibatkan pihak terkait, sehingga tidak ada yang disalahkan dan bagai mana mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini.
" saya sarankan kepads bapak/ibu agar ada komunikasi dengan pihak manajemen agar masalah ini dapat di atasi, dengan cara melakukan musyawarah dan harus melibatkan pihak terkait, sehingga tidak ada yang disalahkan dan bagai mana mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini,"pintanya.
Penulis Ya'Habijan.