(BANYUKE HULU), WARTALANDAK.NET — Bupati Landak Karolin Margret Natasa meminta seluruh pemerintah desa dan kecamatan mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul kondisi kabut asap dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Karolin juga meminta desa segera mengaktifkan posko bencana serta memanfaatkan Dana Desa untuk mendukung penanganan karhutla di tingkat tapak.
Hal itu disampaikan Karolin saat berada di Kecamatan Banyuke Hulu, Kamis (3/9/2026). Menurutnya, kondisi saat ini membutuhkan gerak cepat dari seluruh pihak karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober.
"Saya paham situasi kita sangat tidak ideal. Tapi secara regulasi, ada 5 persen (Dana Desa) yang boleh dialokasikan untuk dana bencana. Segera sisihkan untuk menyetok bahan bakar mesin air dan peralatan pemadam," tegas Karolin.
Ia menekankan, pemerintah desa tidak boleh hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat. Upaya pencegahan dan penanganan harus dimulai dari wilayah masing-masing, terutama untuk melindungi permukiman warga.
"Kita tidak bisa hanya menunggu bantuan dari pusat, kita harus berusaha sendiri dulu masing-masing. Ini kampung-kampung kita, kita juga yang menghirup asap ini, tentu kitalah dulu yang harus bergerak," katanya.
Warga Diminta Hentikan Pembakaran
Karolin juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran, termasuk membakar sampah rumah tangga. Kondisi lahan yang kering dinilai membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
Ia menyebut dampak kabut asap mulai dirasakan masyarakat, termasuk meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Kasus ISPA meningkat. Apapun yang Bapak dan Ibu bakar berpotensi meluas dan sulit dipadamkan karena semuanya kering kerontang. Jadi untuk sementara, bakar sampah rumah tangga pun tidak usah, apalagi membakar lahan. Tolong pahami situasi hari ini," ujarnya.
Karolin secara khusus meminta masyarakat memperhatikan kelompok rentan, seperti anak-anak dan penderita asma, yang lebih berisiko terdampak paparan asap.
Pemkab Distribusikan Mesin Pemadam
Untuk memperkuat penanganan karhutla di tingkat kecamatan dan desa, Pemkab Landak mendistribusikan sejumlah mesin pompa air pemadam portabel beserta selang.
Peralatan tersebut ditempatkan di kantor camat agar dapat digunakan dengan cepat ketika ditemukan titik api.
"Alat pemadam ini saya titipkan dan standby di kantor Camat. Tujuannya agar responsnya jauh lebih cepat saat ada titik api, jangan sampai merembet ke perumahan warga dan tidak perlu menunggu bantuan jauh dari Ngabang," kata Karolin.
Ia meminta kepala desa dan relawan berkoordinasi dalam penggunaan peralatan tersebut sehingga penanganan titik api dapat dilakukan secara gotong royong.
Perusahaan Sawit Diminta Aktif Cegah Karhutla
Selain pemerintah dan masyarakat, Karolin meminta perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Landak ikut mengambil peran dalam pencegahan dan penanganan karhutla.
Perusahaan, kata dia, tidak cukup hanya memberikan bantuan berupa dana. Korporasi juga diminta membangun menara pemantau api, menyiagakan tim patroli, serta memberikan pengetahuan mengenai mitigasi kebakaran dan pengelolaan perkebunan kepada petani mandiri di sekitar wilayah konsesi.
"Bantuan dari perusahaan itu jangan dipikir hanya soal uang, tapi ilmu pengetahuannya. Jangan sampai masyarakat masih menggunakan cara-cara lama yang memicu kebakaran," tegasnya.
Menurut Karolin, keberlanjutan industri perkebunan juga bergantung pada kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitar perusahaan.
"Perusahaan tidak akan bisa maju kalau masyarakat di sekitarnya tidak sehat dan tidak maju," sambungnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Karolin di sela kegiatan peletakan batu pertama pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT Nusantara Sarana Alam (NSA) di Dusun Sibolapit, Desa Tembawang, Kecamatan Banyuke Hulu.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas pengolahan 15 ton tandan buah segar per jam. Kehadirannya diharapkan dapat memangkas biaya transportasi bagi petani mandiri dan kelompok plasma di tiga kecamatan sekitar.
Pemkab Landak berharap keberadaan industri tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan tata kelola perkebunan yang berkelanjutan sekaligus mendorong praktik industri yang lebih ramah lingkungan. (*)
Diterbitkan oleh Wartalandak.net (Ya' Syahdan).
