Hal itu disampaikan Effendi Gazali dalam sebuah tayangan podcast yang kemudian menyebar luas di media sosial. Menurut Effendi, Mahfud menilai penyelesaian kasus besar di Indonesia tidak semata-mata bergantung pada proses hukum, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika politik.
“Pak Mahfud menyampaikan kepada saya bahwa kasus ijazah Presiden Jokowi ini tidak akan selesai cepat. Prediksinya baru tuntas sekitar 2036,” kata Effendi Gazali.
Mahfud MD, yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, dikenal sering menyoroti keterkaitan antara hukum dan kekuasaan politik dalam penyelesaian kasus-kasus strategis nasional.
Menanggapi pernyataan tersebut, aktivis dan pengamat kebijakan publik Wilson Lalengke mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar berhati-hati dalam menyikapi isu ini. Menurut Wilson, Effendi Gazali dikenal sebagai figur yang aktif membentuk opini dan menggulirkan isu di ruang publik.
“Presiden Prabowo harus waspada. Effendi Gazali bukan hanya akademisi, tapi juga pembuat isu. Pernyataannya bisa memiliki tujuan politik tertentu,” ujar Wilson Lalengke, Minggu (4/1/2026).
Wilson menilai, prediksi penyelesaian kasus hingga 2036 berpotensi membentuk persepsi publik bahwa Presiden Prabowo tidak akan mampu menuntaskan persoalan tersebut dalam masa jabatannya. Padahal, masa jabatan presiden dibatasi maksimal dua periode atau hingga 2034.
“Kalau kasus ini baru selesai 2036, maka secara waktu jelas bukan di era pemerintahan Prabowo. Publik perlu memahami keterbatasan struktural ini,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari konfigurasi politik nasional yang kompleks. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk bersikap realistis dan tidak menaruh harapan berlebihan terhadap satu pemerintahan.
Isu ijazah Presiden Jokowi sendiri telah berulang kali dibantah oleh pihak terkait, namun hingga kini masih kerap muncul kembali dan menjadi bahan perdebatan di ruang publik. Pernyataan Effendi Gazali dan tanggapan sejumlah tokoh menunjukkan bahwa isu tersebut masih memiliki resonansi politik yang kuat. (Tim/red).
Diterbitkan oleh Wartalandak.net (Ya' Syahdan).
