-->

Antisipasi Kemarau Panjang, Bupati Landak Imbau Petani Atur Waktu Tanam

Foto, Bupati Karolin berfoto bersama petani (dok istimewa).
(NGABANG), WARTALANDAK.NET — Pemerintah Kabupaten Landak mulai mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi tahun ini. Salah satu upaya yang ditekankan adalah pengaturan waktu tanam agar petani tidak mengalami risiko kekeringan dan gagal panen.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menyampaikan imbauan tersebut saat mengunjungi Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Jumat (27/3/2026). Desa ini dikenal sebagai salah satu wilayah sentra pertanian yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan daerah.

Dalam kunjungannya, Karolin mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan lahan secara optimal serta mengikuti arahan dari pemerintah, termasuk penyuluh pertanian lapangan.

“Kami berharap petani bisa mengelola lahan dengan baik dan mengikuti petunjuk yang diberikan, agar hasil pertanian semakin meningkat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga oleh kemampuan petani dalam mengelola pertanian secara tepat. Pengetahuan mengenai penggunaan pupuk, pemilihan bibit, serta teknik pengolahan lahan dinilai sangat penting dalam meningkatkan produktivitas.

Selain itu, ketepatan waktu tanam menjadi perhatian utama di tengah prediksi kemarau yang lebih panjang. Petani diminta untuk tidak menunda masa tanam agar tidak terjebak pada kondisi kekeringan.

“Jangan sampai terlambat menanam, karena bisa berdampak pada kekeringan dan gagal panen,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kabupaten Landak juga menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada lima kelompok tani. Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja serta produktivitas pertanian.

Dalam kesempatan itu, Karolin juga menyinggung tradisi Naik Dango yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Dayak di Landak. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk keberhasilan pertanian di masa mendatang.

Meski demikian, ia mengingatkan agar perayaan adat dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan, terutama dalam situasi yang menuntut kewaspadaan terhadap ketahanan pangan.

“Masyarakat diharapkan tidak menghabiskan seluruh hasil panen. Sebagian harus disimpan sebagai cadangan pangan keluarga,” pungkasnya.

Diterbitkan oleh Wartalandak.net (byline Ya' Syahdan).

Share:
Komentar

Berita Terkini