(NGABANG), WARTALANDAK.NET– Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengimbau warga di kawasan eks PT Aria untuk mengikuti proses pendataan dan identifikasi lahan yang dilakukan pemerintah daerah bersama ATR/BPN. Menurut dia, tahapan itu menjadi bagian penting dalam pemenuhan hak masyarakat atas lahan yang selama ini mereka garap.
Sebelumnya diberitakan, Pemkab Landak menggelar sosialisasi penyelesaian lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PT Aria di Aula Bappeda Landak, Senin (13/4/2026). Dalam forum itu, Karolin menegaskan pemerintah daerah mengawal proses penyelesaian lahan eks PT Aria agar warga memiliki dasar administrasi yang lebih kuat.
Dalam wawancara lanjutan dengan wartawan usai kegiatan tersebut, Karolin menjelaskan, konflik pertanahan di Landak cukup sering terjadi. Karena itu, pemerintah daerah berupaya memitigasi persoalan serupa dengan mengidentifikasi perusahaan yang tidak memperpanjang HGU, lalu menindaklanjutinya sesuai ketentuan.
“Dalam rangka memitigasi adanya konflik pertanahan di ke depan hari, kami mengidentifikasi beberapa perusahaan yang tidak memperpanjang HGU. Kemudian izin usaha perkebunannya kita cabut, sesuai dengan ketentuan ya,” kata Karolin.
Ia mengatakan, pemerintah daerah berharap masyarakat penggarap dapat memperoleh hak atas tanah yang telah lama mereka usahakan. Menurut dia, para penggarap itu umumnya merupakan petani mitra dari perkebunan sebelumnya, termasuk warga setempat yang pernah menyerahkan lahan kepada perusahaan.
Karolin menegaskan, pemerintah daerah tidak bekerja sendiri. Pemkab Landak, ATR/BPN, dan pihak terkait, termasuk Bank Tanah, disebutnya terus berupaya mendampingi masyarakat sesuai tahapan yang berlaku.
“Nah, kami bersama dengan ATR BPN dan seluruh pihak lah, termasuk Bank Tanah, berupaya semaksimal mungkin untuk mendampingi masyarakat dalam tahapan-tahapannya. Tentu tidak langsung diberikan hak kepemilikan. Tapi tahapan-tahapan seperti pengukuran, identifikasi, dan sebagainya kemudian pengusulan kepada Bank Tanah, tetap kami lakukan. Karena kita berharap masyarakat setempat bisa memiliki lahan-lahan garapan mereka,” ujar Karolin.
Ia mengakui, tahapan tersebut bisa saja dianggap rumit oleh sebagian warga. Namun, menurut dia, proses itu diperlukan agar lahan benar-benar diberikan kepada petani penggarap yang memang berada dan bekerja di lokasi, bukan kepada pihak lain.
“Ya, mungkin banyak yang menganggap ‘aduh ribet’. Ya memang ribet, karena memang ini harus benar-benar memastikan petani, penggarapnya bener-bener yang ada di situ. Bukan siluman, bukan fiktif dan sebagainya,” kata Karolin.
Karolin juga meluruskan adanya kesalahpahaman sebagian warga terhadap kegiatan pengukuran dan identifikasi yang sedang dilakukan pemerintah daerah bersama ATR/BPN. Menurut dia, tanpa data tersebut, pemerintah tidak memiliki dasar untuk melanjutkan pengusulan.
“Padahal, kalau tidak ada data tersebut, ya kita juga tidak bisa mengusulkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, ada perbedaan kewenangan antara pemerintah daerah dan Bank Tanah dalam penyelesaian lahan eks PT Aria. Pemerintah daerah dan ATR/BPN, kata dia, bertugas mengidentifikasi, mendata, dan memetakan. Adapun urusan redistribusi tanah nantinya berada pada mekanisme tersendiri.
“Kami ini mengidentifikasi, mendata, memetakan, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah dan Kantor ATR BPN Kabupaten Landak. Nah urusan dengan Bank Tanah, itu nanti dengan Bank Tanah lagi, masalah redistribusinya,” kata Karolin.
Karolin menambahkan, seluruh proses lahan eks perusahaan di Landak pada prinsipnya menempuh mekanisme yang sama. Karena itu, ia mengajak warga mengikuti arahan pemerintah dan tidak ragu bertanya jika masih ada hal yang belum dipahami.
“Ini merupakan salah satu langkah yang harus kita lalui, tahapan yang harus kita lalui dalam rangka memenuhi hak masyarakat terhadap lahan garapannya. Ikutilah arahan dari pemerintah,” ujar Karolin.
Ia juga mempersilakan warga menghubungi pemerintah daerah di Ngabang apabila membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
“Jika ada hal-hal yang masih belum jelas atau ingin dipertanyakan, dipersilakan untuk menghubungi pemerintah daerah yang sehari-hari ada di Ngabang agar bisa berdiskusi dan mendapatkan pemahaman serta informasi yang lengkap berkaitan dengan program-program yang ada di wilayah bapak dan ibu, terutama yang berkaitan dengan pertanahan,” kata Karolin.
Diterbitkan oleh Wartalandak.net (byline Ya' Syahdan).

