-->



Jamaah Muslimin Minta Pemerintah Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia di Board of Peace

Foto, Imaam Yakhsyallah Mansur saat membacakan penyataan sikap Jamaah Muslimin (Hizbullah) pada Seminar bertema "Kesiapan Umat dalam Menghadapi Dinamika Konflik Global" yang digelar di STAI Al-Fatah Cileungsi Bogor, Sabtu 7 Maret 2026 (Foto: Dok. STAI Al-Fatah).

(BOGOR), WARTALANDAK.NET— Jamaah Muslimin mempertanyakan manfaat keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Organisasi tersebut dinilai tidak lagi relevan setelah terjadinya serangan militer besar-besaran koalisi AS–Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Pimpinan Jamaah Muslimin, Imaam Yakhsyallah Mansur, mengatakan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, sebaiknya mempertimbangkan kembali posisi Indonesia dalam forum tersebut.

Hal itu disampaikan dalam seminar bertajuk “Kesiapan Umat dalam Menghadapi Dinamika Konflik Global” yang digelar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/3).

Dalam pernyataan sikapnya, Jamaah Muslimin menilai Board of Peace tidak layak dilanjutkan karena dianggap membawa agenda imperialisme global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Menurut mereka, serangan militer yang dilakukan koalisi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk warga sipil seperti anak-anak, remaja, dan jamaah yang tengah beribadah di masjid. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah ulama, ilmuwan, serta petinggi militer negara tersebut.

Jamaah Muslimin juga menilai tindakan militer yang diperintahkan oleh Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai hak asasi manusia.

Dalam pernyataan tersebut, mereka mendorong agar kedua pemimpin tersebut dibawa ke Mahkamah Internasional atas dugaan kejahatan perang.

Selain itu, Jamaah Muslimin menilai konflik tersebut tidak terlepas dari situasi yang lebih luas terkait konflik Israel–Palestina. Iran disebut selama ini mendukung perjuangan Palestina, sementara Israel dinilai terus meningkatkan tekanan terhadap warga Palestina, termasuk pembatasan akses ke kompleks Masjid Al-Aqsa.

Menurut mereka, dalam beberapa hari terakhir warga Palestina dilaporkan tidak dapat memasuki area masjid tersebut untuk melaksanakan ibadah, termasuk salat tarawih pada bulan Ramadan.

Dalam kesempatan yang sama, Jamaah Muslimin juga mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk memperkuat persatuan dan menghindari perpecahan, termasuk dikotomi antara Sunni dan Syiah.

Mereka menilai perpecahan tersebut sering dimanfaatkan oleh pihak luar untuk melemahkan solidaritas umat Islam.

Di akhir pernyataan sikapnya, Jamaah Muslimin menyerukan umat Islam untuk meningkatkan doa dan solidaritas bagi masyarakat yang terdampak konflik, khususnya di Iran dan kawasan Timur Tengah. Mereka berharap pihak yang berada di jalan kebenaran memperoleh kemenangan serta terciptanya perdamaian bagi masyarakat dunia. (Rilis).

Diterbitkan oleh Wartalandak.net (Ya' Syahdan).

Share:
Komentar

Berita Terkini