(JAKARTA), WARTALANDAK.NET--
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
"Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Milik Allahlah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Pada hari itu bergembiralah orang-orang mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."
(QS Ar-Ruum [30]: 1–5)
Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan mukjizat Al-Qur’an dalam meramalkan kejadian masa depan. Ketika bangsa Romawi (Byzantium) dikalahkan oleh Persia (Iran), kaum Muslimin merasa sedih karena Persia adalah bangsa penyembah api seperti kaum musyrikin Quraisy.
Menurut pendapat yang masyhur, kekalahan Romawi atas Persia terjadi pada tahun 613–614 M (sekitar tujuh tahun sebelum hijrah). Namun pada tahun 621 M, tujuh tahun kemudian, Romawi berhasil bangkit dan merebut kembali wilayah strategis seperti Syam dan Madain.
Kaum Muslimin saat itu lebih condong kepada Romawi yang beragama Nasrani karena ada kesamaan dalam hal pengakuan kepada Tuhan, dibanding Persia yang menganut agama Majusi.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyampaikan bahwa ayat ini adalah pelajaran tentang kepercayaan terhadap janji Allah. Walaupun kaum Muslimin dalam posisi lemah secara fisik dan militer, mereka harus yakin bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang. Musuh-musuh Islam bisa saja hancur bukan oleh kekuatan umat Islam, tetapi oleh sebab-sebab lain yang Allah kehendaki.
Perang Iran–Israel: Dimensi Baru Konflik Timur Tengah
Dalam konteks konflik modern, perang antara Iran dan Israel pada Juni 2025 menjadi sorotan dunia. Iran, yang selama ini menantang dominasi Israel dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, berhasil mengguncang hegemoni Zionis dalam konflik 12 hari yang dramatis.
Selama hampir dua minggu (13–24 Juni 2025), langit Israel diliputi ketegangan. Rudal-rudal balistik Iran meluncur dengan presisi tinggi, menghantam infrastruktur vital dan menciptakan gelombang kejut di tengah masyarakat dan pemerintah Israel.
Serangan-serangan tersebut mengakibatkan kerusakan besar:
- Pusat komando militer Israel luluh lantak.
- Ribuan warga mengungsi ke luar negeri.
- Bursa saham Tel Aviv anjlok parah.
- Bank-bank internasional mulai menarik modal dari Israel.
- Ketegangan politik internal meningkat tajam.
Kerugian Israel: Militer, Ekonomi, dan Politik
Data yang beredar menunjukkan kerugian signifikan dari pihak Israel:
- 6 jenderal terbunuh
- 32 personel Mossad, 78 Shin Bet, 18 AL, 198 AU, dan 462 tentara gugur
- 423 warga sipil meninggal
- Lebih dari 3.000 luka-luka
- Sekitar 9.000 rumah terdampak
- Kerugian ekonomi ditaksir mencapai 20 miliar dolar AS (sekitar Rp 326 triliun)
Kondisi ini menimbulkan krisis politik dalam negeri. Tekanan dari masyarakat, para investor, dan sekutu internasional membuat Israel berada dalam situasi genting.
Analisis Para Ahli: Israel Mengalami Kemunduran Strategis
Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, menyebut kekalahan ini sebagai "pukulan berat" bagi Israel. Ketangguhan yang selama ini diagung-agungkan kini mulai dipertanyakan.
Sementara itu, Kolonel Richard Kemp, mantan Komandan Pasukan Inggris di Afghanistan, dalam wawancaranya dengan ILTV (26 Juni 2025), menyatakan bahwa meskipun Israel tidak secara formal kalah, namun hasil perang ini jelas jauh dari tujuan strategis mereka. Iran, menurutnya, berhasil menekan Israel menggunakan taktik asimetris yang cerdas, melalui aliansi dan serangan langsung.
Kekuatan Iran: Senjata, Ideologi, dan Aliansi
Keunggulan Iran dalam perang ini tidak semata-mata berasal dari kekuatan senjata, tetapi juga dari ideologi perjuangan dan aliansi regional yang kuat. Dukungan rakyat dan semangat perlawanan menjadi fondasi yang tak bisa diremehkan.
Jenderal Qasem Soleimani (rahimahullah), mantan komandan Pasukan Quds IRGC, pernah berkata,
“Kami tidak hanya bertempur dengan senjata, tetapi dengan iman dan tekad. Kekuatan militer tanpa moral dan prinsip tidak akan bertahan lama.”
Sikap Kaum Muslimin: Adil, Cermat, dan Bersatu
Dalam menyikapi konflik seperti ini, kaum Muslimin harus bersikap cerdas dan adil. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS Al-Ma’idah [5]: 8)
Kecenderungan negara-negara Muslim mendukung Iran dalam konflik ini mencerminkan kesamaan sikap terhadap penindasan dan penjajahan yang dilakukan oleh Zionis Israel. Meski berbeda madzhab dan latar belakang, umat Islam dapat bersatu melawan kezaliman.
Pendiri Hamas, Syaikh Ahmad Yassin rahimahullah, pernah menyatakan:
“Umat Islam harus bersatu melawan penjajahan, dan kekuatan terbesar kita adalah persatuan.”
Kesimpulan: Optimisme Menuju Pembebasan Palestina
Perang antara Iran dan Israel merupakan titik balik dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Dunia menyaksikan bahwa dominasi Israel dan sekutunya kini mulai runtuh.
Meski ada dugaan peran negara adidaya di balik konflik, satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah kecanggihan dan keberanian Iran telah mengubah peta kekuatan di kawasan. Ini menjadi sinyal bagi umat Islam di seluruh dunia bahwa perjuangan pembebasan Al-Aqsa dan Palestina tidak sia-sia.
Allah akan menolong umat-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka, sebagaimana janji-Nya dalam Al-Qur’an. Maka, umat Islam hendaknya tetap teguh, bersatu, dan optimis dalam menghadapi masa depan perjuangan. (Rilis Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur).
Diterbitkan oleh Wartalandak.net (Ya' Syahdan).