(SERANG), WARTALANDAK.NET— Pengasuh Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Kota Serang, Banten, Zaenal Abidin Syuja’i, menilai kisah perjalanan iman Nabi Ibrahim dalam Surah Al-An’am ayat 75-80 relevan untuk mengkritik fenomena sosial modern yang dinilai melahirkan banyak “tuhan-tuhan baru” dalam kehidupan masyarakat.
Dalam tulisannya berjudul Perjalanan Iman Nabi Ibrahim dan Kegagalan Kita “Membaca” Langit, Zaenal menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim membangun keyakinannya melalui proses intelektual dan perenungan yang jujur terhadap fenomena alam.
Ia menuturkan, Nabi Ibrahim tidak sekadar memandang bintang, bulan, dan matahari sebagai benda langit, melainkan menguji makna di balik keberadaannya sebelum menolak semuanya sebagai Tuhan karena bersifat fana atau “terbit dan tenggelam”.
“Iman lahir bukan dari warisan, tetapi dari keberanian mempertanyakan,” tulis Zaenal.
Menurut dia, metode berpikir Nabi Ibrahim menjadi pelajaran penting bahwa sesuatu yang tampak bercahaya dan memukau belum tentu layak dijadikan pusat pengabdian.
Zaenal menilai masyarakat modern justru kerap mengangkat hal-hal duniawi ke derajat yang nyaris sakral tanpa proses perenungan kritis sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim.
Ia mencontohkan politik yang sering diperlakukan layaknya “matahari” baru. Para elite, kata dia, datang dengan retorika yang memikat dan dipuja sebagai penyelamat, namun kemudian tenggelam dalam skandal maupun kompromi politik.
“Setiap kali ‘matahari’ baru muncul, masyarakat kembali silau, seolah lupa bahwa yang sebelumnya juga pernah bersinar dengan cara yang sama,” ujarnya.
Selain politik, ia juga menyoroti fenomena media sosial yang dinilai melahirkan “bintang-bintang kecil” yang dipuja tanpa kritik. Ukuran kebenaran, menurutnya, bergeser dari substansi menjadi sekadar popularitas dan viralitas.
Zaenal juga mengkritik kecenderungan menjadikan simbol-simbol agama sebagai alat legitimasi sosial dan identitas semata, bukan sebagai jalan pencarian spiritual yang mendalam.
Menurutnya, keberanian Nabi Ibrahim untuk mengatakan “Aku tidak menyukai yang tenggelam” merupakan bentuk penolakan terhadap segala sesuatu yang bersifat sementara dan fana.
Ia menilai saat ini banyak orang menyadari bahwa kekuasaan, materi, dan popularitas bersifat sementara, tetapi tetap menjadikannya ukuran utama dalam kehidupan.
“Kita hidup dalam kesadaran yang setengah matang: tahu, tetapi tidak berani menarik kesimpulan,” katanya.
Zaenal menegaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim bukan hanya cerita teologis, melainkan juga kritik sosial yang mengingatkan pentingnya membebaskan diri dari berbagai bentuk “tuhan palsu”.
Ia mengajak masyarakat kembali memaknai tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui perenungan yang mendalam, sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim ketika membaca fenomena alam.
“Langit masih sama seperti yang dilihat Ibrahim. Tetapi kita tidak lagi menjadikannya pelajaran,” tulisnya.
Penulis, KH Zaenal Abidin Syuja'i.
Diterbitkan oleh Wartalandak.net ( Ya' Syahdan).
