(JAKARTA), WARTALANDAK.NET – Indonesia kembali berduka. Salah satu tokoh penting dalam sejarah reformasi ekonomi bangsa, Kwik Kian Gie, telah berpulang. Sosok ekonom senior yang dikenal kritis terhadap kebijakan Orde Baru ini, bukan hanya meninggalkan warisan pemikiran, tetapi juga semangat perjuangan untuk keadilan dan kedaulatan ekonomi nasional.
Dalam lintasan sejarah, Kwik dikenal sebagai suara jernih di tengah gegap gempita sistem ekonomi-politik yang sarat kolusi, korupsi, dan nepotisme. Di masa Orde Baru, kritiknya terhadap praktik monopoli dan kleptokrasi menjadikannya simbol perlawanan terhadap sistem yang hanya menguntungkan segelintir elite dan kroni penguasa.
Pembangunan Berbasis Akal Sehat dan Pancasila
Kwik Kian Gie tidak hanya mengkritik, ia juga menawarkan jalan keluar. Dalam berbagai forum, ia selalu menekankan bahwa pembangunan Indonesia harus bertumpu pada akal sehat dan nilai-nilai Pancasila. Ia percaya bahwa keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan kesentosaan adalah fondasi utama pembangunan nasional.
Salah satu fokus utamanya adalah sektor pendidikan. Baginya, pendidikan adalah kunci pembentukan manusia Indonesia yang merdeka, mandiri, dan berdaya saing. Ia mengusulkan reformasi kurikulum agar sesuai dengan karakter bangsa, sehingga para lulusan tidak sekadar menjadi pekerja, tetapi pemimpin yang melayani rakyat.
Peringatan Keras terhadap Oligarki dan Depresiasi Rupiah
Dalam pemikirannya, terdapat dua isu krusial yang selalu disorot: konglomerasi yang berubah menjadi oligarki, dan depresiasi rupiah yang mengancam kedaulatan ekonomi nasional.
Kwik menganggap oligarki sebagai ancaman nyata terhadap kemanusiaan dan demokrasi. Ia melihat praktik ini sebagai kelanjutan dari ekonomi pasar yang rakus dan mengabaikan peran negara. Ia bahkan menyebut kegagalan untuk memberantas oligarki sebagai bentuk kegagalan bernegara.
Di sisi lain, ia juga menyoroti depresiasi rupiah sebagai gejala struktural yang bukan hanya akibat ekonomi global, tetapi juga permainan kekuatan gelap internasional yang memanfaatkan Indonesia sebagai tempat pencucian uang. Data menunjukkan nilai rupiah telah mengalami depresiasi hingga 2.500 persen sejak kemerdekaan.
Warisan yang Tak Ternilai
Meski perjuangan dan kritiknya belum sepenuhnya direspons oleh elite kekuasaan, kontribusi Kwik tak dapat diabaikan. Ia pernah menjabat sebagai Menko Ekuin, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, hingga Wakil Ketua MPR. Ia juga mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia, yang kini dikenal sebagai Kwik Kian Gie School of Business.
Bangsa ini boleh saja belum keluar dari belenggu oligarki dan ekonomi pasar bebas, namun warisan pemikiran dan integritas Kwik tetap menjadi obor bagi generasi penerus.
Selamat jalan, Kwik Kian Gie. Indonesia berterima kasih atas pengabdian dan perjuanganmu.
Oleh, Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre
Diterbitkan oleh Wartalandak.net (Ya' Syahdan).