Program yang berlangsung selama 30 hari tersebut difokuskan pada percepatan pembangunan infrastruktur desa dan penguatan ketahanan pangan, salah satunya melalui normalisasi Sungai Lada di Dusun Merampayang.
Karolin mengatakan, normalisasi sungai menjadi salah satu prioritas untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini menggenangi lahan persawahan warga ketika musim hujan. Penanganan tersebut dinilai penting untuk mendukung optimalisasi lahan pertanian yang sebelumnya masuk dalam program optimalisasi lahan (oplah).
“Untuk optimalisasi lahan dan keberlanjutan program, maka dalam TMMD ini dilaksanakan kegiatan normalisasi,” kata Karolin seusai upacara pembukaan.
Ia menjelaskan, TMMD merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat dalam mendorong pemerataan pembangunan di wilayah pedesaan. Pelaksanaannya didanai melalui APBD dengan mengedepankan semangat gotong royong dan kebersamaan.
Menurut Karolin, pembangunan yang dilakukan melalui program tersebut tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama petani yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan produktivitas lahan.
Di sektor pertanian, Karolin menyebutkan realisasi penanaman di Kabupaten Landak telah mencapai sekitar 80 persen dari target. Namun, ia mengingatkan bahwa kemarau panjang berpotensi menurunkan produktivitas hasil panen.
“Sejauh ini gagal total mungkin tidak terlalu banyak, tapi produktivitasnya yang kemungkinan akan menurun dengan kondisi kemarau yang sangat panjang,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pelaksanaan TMMD dapat mendukung keberlanjutan sektor pertanian sekaligus memperkuat upaya pencapaian swasembada pangan sesuai target pemerintah pusat.
Karolin juga meminta masyarakat Desa Amboyo Selatan berperan aktif membantu pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, keterbatasan anggaran harus disikapi dengan pemanfaatan sumber daya secara optimal agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara maksimal.
“Walaupun anggarannya efisiensi luar biasa, jadi ya inilah yang ada, optimalkan dengan sebaik-baiknya. Cuma masyarakatnya jangan duduk-duduk juga ya, Pak Kades, ya? Dibantu, ya, didukung, karena ini untuk kepentingan masyarakat di tempat kita,” katanya.
Sementara itu, Komandan Kodim 1210/Landak Letkol Inf Hudallah mengatakan, TNI berkomitmen mendukung pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan. Pelaksanaan program TMMD, kata dia, juga diselaraskan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat.
“Kita Kodim ini kan tugasnya adalah membantu pemerintah daerah untuk mempercepat proses pembangunan yang ada di desa. Kemudian untuk program itu sendiri juga kita selaraskan dengan keinginan dari masyarakat,” ujar Hudallah.
Selain kegiatan fisik, TMMD ke-130 juga mencakup kegiatan nonfisik berupa sosialisasi penerimaan prajurit TNI, termasuk informasi mengenai peluang bagi masyarakat adat Dayak.
Hudallah menjelaskan, terdapat ketentuan khusus yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, di antaranya batas usia pendaftaran yang disebut dapat mencapai 26 tahun serta ketentuan mengenai tato adat bagi calon prajurit tertentu.
Di sisi lain, Kepala Desa Amboyo Selatan Djogi Klana menyambut positif pelaksanaan TMMD di wilayahnya. Ia menilai program tersebut dapat membantu masyarakat, khususnya warga yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.
Menurut Djogi, sejumlah program yang direncanakan dalam TMMD diharapkan mampu menjawab kebutuhan warga dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa.
“Semoga dengan adanya kegiatan TMMD ini memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Amboyo Selatan,” katanya. (*)
Diterbitkan oleh Wartalandak.net (Ya' Syahdan).
